MARQUEE

HAVE A NICE DAY

Jumat, 10 Maret 2017

Tokoh : Abdul Jalil Syah

Abdul Jalil Syah dari Siak

Sultan Abdul Jalil Syah atau Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I, dikenal juga dengan panggilan Raja Kecik atau Raja Kecil dari Pagaruyung, merupakan saudara dari Yang Dipertuan Pagaruyung Raja Alam Indermasyah, kemudian mendirikan Kesultanan Siak Sri Inderapura.

Biografi
Pada tahun 1716, Sultan Abdul Jalil diutus oleh Sultan Indermasyah untuk mewakili dirinya dalam menyelesaikan kesepakatan dagang dengan pihak VOC, pada awalnya pihak Belanda menolaknya, namun kemudian kembali datang surat dari Yang Dipertuan Pagaruyung, yang menegaskan status dari pada Sultan Abdul Jalil tersebut.

Dalam Syair Perang Siak, Raja Kecil putra Pagaruyung, didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis, sekaligus melepaskan Siak dari pengaruh Johor. Berdasarkan Hikayat Siak, Raja Kecil merupakan putra dari Sultan Mahmud, Sultan Johor yang terbunuh. Dari suratnya kepada VOC, Raja Kecil dari Pagaruyung, memberitahukan bahwa ia akan menuntut balas atas peristiwa terbunuhnya Sultan Mahmud. Pada tahun 1717 Raja Kecil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor, dengan gelar Yang Dipertuan Besar Johor, namun pada tahun 1722 karena pengkianatan beberapa bangsawan Johor, ia tersingkir dan kemudian pindah ke Siak dan menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahannya tahun 1723.

Sebelumnya dari catatan Belanda, juga mencatat pada tahun 1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau berperang melawan raja Jambi. Kemudian berdasarkan surat dari Raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.

Pada tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah, dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan bahkan pada tahun 1740-1745 menaklukan beberapa kawasan di Kedah. Sultan Abdul Jalil Syah mangkat pada tahun 1746 dan dimakamkan di Buantan kemudian digelari dengan Marhum Buantan. Kemudian kedudukannya digantikan oleh putranya, yang bernama Sultan Mahmud.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Jalil_Syah_dari_Siak

Tempat Wisata : Tugu Ikan Patin

Tugu Ikan Patin


Tugu Ikan Patin ini berada di Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu, Rengat barat beribukota Pematang Reba dan pematang reba kini menjadi Pusat pemerintahan Kabupaten Indragiri Hulu. 
Tugu Ikan patin kini menjadi ikon kota Pematang Reba. Dua ekor Ikan Patin dibawah sekuntum Bunga Seroja ini berada di Perempatan jalan Lintas Timur. Ikan Patin merupakan Ikan Khas kota Rengat, bahkan Asam pedas Patin atau Gulai Ikan Patin menjadi kuliner andalan Rengat.


Sumber : http://www.riaudailyphoto.com/2012/12/tugu-ikan-patin.html

Tempat Wisata : Taman Bukit Gelanggang Dumai

TAMAN BUKIT GELANGGANG DUMAI

Sebagai salah satu Ruang Hijau Terbuka yang ada di Kota Dumai, Taman Bukit Gelanggang menjelma menjadi sebuah tempat yang bisa dijadikan pilihan untuk menikmati waktu luang dan akhir pekan.

Bermula dari sebuah lapangan sepakbola (2003), Taman Bukit Gelanggang terus dibenahi. Pada tahun 2006, event bertaraf provinsi digelar disini yaitu MTQ Provinsi Riau di Alun-alun Kota Dumai. Pembangunan dilanjutkan dengan dibangunnya Tugu Reformasi pada tahun 2009, Pembangunan Air Mancur pada tahun 2010, Pembangunan jogging track, playground area serta panggung pertunjukan di areal ini. Menurut rencana pembangunan tahun 2013, Pemerintah Kota Dumai juga akan melengkapi areal ini dengan membangun sebuah mesjid disekitar reservoir yang diberi nama Masjid Terapung.

Pembangunan Taman Bukit Gelanggang memiliki konsep penataan taman di tengah kota, yang bisa dijadikan arena untuk refreshing warga Kota Dumai. Revitalisasi Taman Bukit Gelanggang sebagai upaya mewujudkan Visi Dumai sebagai kota Tourism. Karena melalui berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan di Taman Bukit Gelanggang diharapkan dapat menarik wisatawan luar daerah agar berkunjung ke Dumai.

Pembangunan Taman Bukit Gelanggang diharapkan bisa menjadi kawasan tersebut sebagai pusat aktivitas kebugaran, refreshing, dan sentra bisnis. Karena memang taman kota yang dibuat pemerintah merupakan sebuah ruang terbuka yang dapat mengintegrasikan antara lingkungan, masyarakat, dan kesehatan di lingkungan perkotaan.

Pemerintah Kota Dumai melalui Dinas Perhubungan juga telah melengkapi fasilitas  WiFi/Hot Spot di areal Taman Bukit Gelanggang sebagai pusat aktivitas bisnis dan sebagai upaya mendukung terciptanya sumber daya manusia yang handal dan professional. Karena dengan adanya jaringan WiFi, masyarakat dapat mengakses berbagai ilmu pengetahuan melalui media internet.

Sumber : https://seputardumai.com/2014/06/09/taman-bukit-gelanggang-dumai/

Tempat Wisata : Masjid Agung An-Nur

Masjid Agung An-Nur

Masjid Agung An Nur merupakan sebuah masjid yang terletak di Pekanbaru, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1963 dan selesai pada tahun 1968. Masjid yang di ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru tersebut saat ini merupakan salah satu yang termegah di Indonesia. Dilihat dari sisi bangunannya, masjid banyak mendapat pengaruh dari gaya arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India.

Sejarah
Mesjid Agung An Nur berdiri tanggal 27 Rajab 1388 H atau bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1968, Masjid Agung An-Nur diresmikan oleh Arifin Ahmad, Gubernur Riau waktu itu dan tahun 2000 pada masa gubernur Saleh Djasit mesjid ini direnovasi secara besar-besaran.

Masjid Agung An-Nur Riau yang kita saksikan begitu megah saat ini bukanlah bangunan asli hasil pembangunan tahun 1966 dan diresmikan tahun 1968. Tapi merupakan bangunan hasil renovasi total dan pembangunan kembali dari masjid Agung An-Nur yang lama. Di pergantian milenium tahun 2000 lalu, pada saat Riau dibawah kepemimpinan gubernur Shaleh Djasit, Masjid Agung An-Nur yang lama di rombak total ke bentuknya saat ini.

Dari pembangunan tahun 2000 tersebut luas lahan masjid ini bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya yang hanya seluas 4 hektare menjadi 12.6 hektare. Luasnya lahan masjid baru ini memberikan keleluasaan bagi penyediakan lahan terbuka untuk publik Pekanbaru termasuk di dalamnya kawasan taman nan hijau dan lahan parkir yang begitu luas.

Dalam sejarahnya Masjid Agung An-Nur pernah menjadi kampus bagi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim Pekabaru di awal pendiriannya hingga tahun 1973. IAIN Sultan Syarif Kasim kini Menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru.

Arsitektur

Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini disebut disebut sebagai Taj Mahalnya provinsi Riau. Bila kita amati arsitektural masjid Agung An-Nur memang memiliki beberapa kesamaan dengan Taj Mahal. Arsitektur Masjid ini dirancang oleh Ir. Roseno dengan ukuran 50 X 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yang luasnya 400 X 200 m. Kapasitas masjid dapat menampung sekitar 4.500 orang jamaah. Bangunan masjid terdiri dari tiga tingkat. Tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan.

Masjid ini mempunyai tiga buah tangga, 1 buah tangga di bagian muka dan 2 buah tangga di bagian samping. Di bagian atas terdiri dari 13 buah pintu dan bagian bawah terdiri dari 4 buah pintu dan mempunyai kamar-kamar yang besar dan sebuah aula. Sedangkan tulisan kaligrafi yang terdapat dalam ruangan masjid ini ditulis oleh seorang kaligrafer bernama Azhari Nur dari Jakarta yang ditulis pada tahun 1970.

Lantai bawah masjid merupakan sekretariat pengurus masjid, manajemen, remaja masjid serta ruang ruang kelas tempat pelaksanaan pendidikan Islam. Masjid Agung An-Nur Riau juga dilengkapi dengan eskalator penghubung antara lantai satu dan dua. Di halaman masjid Agung An-Nur Riau merupakan lapangan luas.

Masjid Agung An Nur juga dilengkapi oleh bermacam fasilitas seperti pendidikan mulai dari playgrup, TK, SD, SMP & SMA, perpustakaan yang lengkap dan fasiltas lain seperti aula dan ruang pertemuan, ruand kelas dan ruang ruang kantor. Selain itu, Masjid Agung An Nur memiliki Radio Penyiaran Komunitas bernama LPK An-Nur FM dengan frekuensi 107.7 MHz.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_An-Nur